Iklan

Makalah Masailul Fiqhiyah, Agama Sebagai Sumber Nilai Kebudayaan

Admin - JabarTrends
Tuesday | 07:33 WIB Last Updated 2021-10-10T08:52:03Z

Agama Sebagai Sumber Nilai Kebudayaan

Makalah masailul fiqhiyah, agama sebagai nilai kebudayaan -Selamat pagi sobat Jabar Trends, Bagaimana kabarnya? Baik-baik saja bukan? Kami berharap semuanya sehat selalu ya dan mudah-mudahan kita senantiasa di beri kesehatan oleh allah swt. aamiin.

Pada kesempatan kali ini mimin mau bagi-bagi materi nih terkait agama sebagai sumber nilai kebudayaan. mengapa demikian? karena sebagian orang masih belum tahu tentang keunikan agama yang memiliki nilai-nilai kebudayaan didalamnya, selain itu agama juga merupakan Kebutuhan Manusia, disini kami akan membahas juga terkait islam Agama sepanjang masa, Agama Sebagai Sumber segala Sumber, Agama sebagai sumber nilai kebudayaan, Islam Sebagai Sistem Nilai. berikut pembahasannya yang kami berikan judul "Agama Sebagai Sumber Nilai Kebudayaan"

AGAMA SEBAGAI SUMBER NILAI KEBUDAYAAN




A. Pengertian agama

Secara bahasa agama berasal dari bahasa sansekerta, yaitu dari a berarti tidak, dan gama berarti kacau. Jadi agama berarti tidak kacau atau tertatur. 

Dalam al-Qur’an dan Hadis Nabi, agama disebut dengan kata diin atau millah atau syari’ah. Kata diin atau ad-diin artinya pembalasan, adat kebiasaan, peraturan, atau hari pembalasan atau hari kiamat. Sedangkan kata millah berarti undang-undang atau peraturan. Sedangkan syari’ah berarti jalan yang harus dilalui atau hukum.


Secara terminologis, pengertian agama di kalangan para ahli juga berbeda-beda, tergantung dari sudut pandang dan perspektif. Berikut pengertian agama secara istilah menurut para ahli.

Soerjono Soekanto: Pengertian agama ada tiga macam, yaitu: (1) kepercayaan pada hal-hal yang spiritual; (2) perangkat kepercayaan dan praktik-praktik spiritual yang dianggap sebagai tujuan tersendiri; dan (3) idiologi mengenai hal-hal yang bersifat supranatural

Thomas F. O`Dea: Agama adalah pendayagunaan sarana-sarana supra-empiris untuk maksud-maksud non empiris atau supra-empiris.


B. Agama adalah kebutuhan manusia

Manusia merupakan makhluk yang paling sempurna diciptakan oleh Allah swt. Oleh sebab itu manusia selalu membutuhkan panutan untuk menjalankan kehidupannya masing-masing. Manusia tidak akan pernah merasa puas atas apa yang telah mereka miliki, oleh karena itu manusia harus memenuhi kebutuhan hidupnya dengan kebutuhan pokok seperti kebutuhan primer, skunder dan tersier. Semua kebutuhan tersebut harus diiringi dengan keyakinan, manusia dapat mengatur hidupnya dengan adanya keyakinan atau Agama yang mereka anut, oleh sebab itu agama merupakan salah satu kebutuhan manusia yang juga tidak kalah penting dibandingkan dengan kebutuhan pokok tersebut. Dengan memiliki Agama, manusia dapat mengendalikan segala sesuatu yang dihadapi dalam kehidupannya, manusia dapat mengendalikan hawa nafsu mereka dengan aturan keyakinan mereka masing-masing, kebutuhan manusia terhadap agama bukanlah kebutuhan yang dianggap mudah, karna agama dapat membuat manusia meyakini apa yang mereka lakukan dalam kehidupan mereka masing-masing, dalam Agama Islam manusia memiliki hak dan kewajiban sesuai dengan kodratnya, maka dalam agama islam manusia dapat mengatur kehidupannya dengan baik.


Mengapa agama merupakan kebutuhan manusia? Berikut Latar Belakang Perlunya Manusia Terhadap Agama.


1. Latar Belakang Fitrah Manusia 

Dalam bukunya berjudul Perpektif Manusia dan Agama, Murthada Muthahhari mengatakan, bahwa di saat berbicara tentang para nabi, Imam Ali as. menyebutkan bahwa mereka diutus untuk mengingatkan manusia kepada perjanjian yang telah diikat oleh fitrah mereka, yang kelak mereka akan dituntut untuk memenuhinya. Mengacu kepada informasi yang diberikan Alquran, Musa Asy’ari sampai pada suatu kesimpulan, bahwa manusia insan  adalah manusia yang menerima pelajaran dari Tuhan tentang apa yang tidak diketahuinya. Manusia insan secara kodrati sebagai ciptaan Tuhan yang sempurna bentuknya dibandingkan dengan ciptaan Tuhan lainya sudah dilengkapi dengan kemampuan mengenal dan memahami kebenaran dan kebaikan yang terpancar dari ciptaan-Nya.


2. Kelemahan dan kekurangan manusia

Quraish Shihab mengatakan, walaupun Alquran menegaskan bahwa nafs berpotensi positif dan negatif, namun diperoleh pula isyarat bahwa pada hakikatnya potensi positif manusia lebih kuat daripada potensi negatifnya, hanya saja daya tarik keburukan lebih kuat daripada daya tarik kebaikan. Sifat-sifat yang cendrung kepada keburukan yang ada pada manusia itu antara lain berlaku zhalim, dalam keadaan susah payah, suka melampaui batas, sombong, ingkar dan sebagainya.


3. Tantangan manusia

Faktor lain yang menyebakan manusia memerlukan agama adalah karena manusia dalam kehidupannya senantiasa  menghadapi berbagai tantangan, baik yang datang dari dalam maupun dari luar. Tantangan dari dalam dapat berupa dorongan hawa nafsu dan bisikan setan. Sedangkan tantangan dari luar dapat berupa rekayasa dan upaya-upaya yang di lakukan manusia yang secara  sengaja berupaya ingin memalingkan manusia dari Tuhan. Mereka dengan rela mengeluarkan biaya, tenaga, dan pikiran yang dimanifestasikan dalam berbagai bentuk kebudayaan yang didalamnya mengandung misi menjauhkan manusia dari Tuhan.


C. Islam agama sepanjang masa

Kata Ibn Taymiyyah, “Oleh karena asal-usul agama tidak lain ialah Islam, yaitu agama pasrah (kepada Tuhan) itu satu, meskipun syari’atnya bermacam-macam, maka Nabi Saw bersabda dalam sebuah hadits shahih: ‘Sesungguhnya kami golongan para Nabi, agama kami adalah satu (sama).’” Para Nabi itu bersaudara satu ayah lain ibu, jadi agama mereka adalah satu. Yaitu ajaran beribadah hanya kepada Allah, Tuhan Yang Maha Esa yang tiada padanan bagi-Nya.” (Ibn Taymiyyah, Iqtidla al-Shirath al-Mustaqim, Hal: 455-456).


Jadi suatu agama, seperti agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad (yang memang secara sadar dari semula disebut agama sikap pasrah sempurna kepada Allah atau al-Islam), adalah tidak unik (dalam arti, tidak berdiri sendiri dan terpisah). Dia berada dalam garis kelanjutan dengan agama-agama lain. Hanya saja, seperti halnya dengan semua yang hidup dan tumbuh, agama itu pun, dalam perjalanan sejarahnya, juga berkembang dan tumbuh, sehingga akhirnya mencapai kesempurnaan dalam agama Nabi Muhammad, Rasul Allah yang penghabisan, yang tiada lagi Rasul sesudah beliau.


Maka, seperti kata Ibn Rusyd dalam bagian terakhir kitabnya, Tahafut al-Tahafut, meskipun pada esensinya agama itu semua sama, namun manusia pada zaman tertentu mempunyai kewajiban moral untuk memilih tingkat perkembangannya yang paling akhir saat itu. Dan perkembangannya yang terakhir agama-agama itu ialah agama Nabi Muhammad. Namun tetap, dalam kesadaran akan kesatuan asal agama-agama, kita diwajibkan beriman kepada semua Nabi, tanpa membeda-bedakan antara mereka, dan pasrah hanya kepada Allah Swt. (QS. Al-Baqarah: 136).


Maka dari beberapa penjelasan tersebut maka sudah tentu agama islam adalah agama sepanjang masa, mulai dari nabi adam / manusia pertama yang di ciptakan oleh allah swt hinga akhir zaman pun agama islam akan tetap ada sepanjang masa. Karena agama yang di ridhai oleh allah swt adalah agama islam. 


D. Agama sebagai sumber segala sumber

Agama yang mempercayai adanya sesuatu yang sifatnya tidak terlihat namun bisa mengatur segalanya ternyata agama juga merupakan sebuah sumber dari segala sumber. 


Ada banyak sumber yang akan didapat dari agama, diantaranya sumber pendidikan, sumber hukum,  sumber keadilan, sumber sosial, sumber psikologis, sumber pengetahuan dan lain-lain. Agama juga memiliki beberapa fungsi bagi manusia diantaranya sebagai berikut: 


1. Fungsi Pendidikan

Dalam aspek fungsi ini, agama punya peran untuk memberikan pedoman dan bimbingan kepada manusia atau umat penganut suatu agama mengenai tindakan yang benar dan salah, atau baik dan buruk (Puji Lestari, 2009:41). Jadi, ketika seseorang menjalani kehidupan sehari-hari, maka ia akan mengikuti ajaran yang sudah diberikan oleh agamanya. Biasanya, terkait hal ini tercantum di kitab suci masing-masing agama. 


2. Fungsi Sosial 

Bukan hanya tentang kepatuhan terhadap perintah Tuhan, namun agama juga mengatur tentang hubungan satu manusia dengan manusia lainnya ketika melakukan sosialisasi. Mulai dari penerapan kasih sayang, saling membantu, kerukunan, dan keharmonisan antara sesama manusia diatur sedemikian rupa agar seseorang bisa mengetahui perannya dalam kehidupan sosial. 


3. Fungsi Psikologis 

Psikologis manusia yang mempercayai agama juga bisa terkendali. Biasanya, "Orang meyakini dan mengamalkan ajaran agama kebanyakan untuk meraih ketentraman,” (Dyastriningrum, 2009:37). Agama ternyata bisa membawa seseorang ke dalam fase tenang karena percaya ada sesuatu yang mengendalikan kehidupan. Mereka tidak akan mudah depresi atau gelisah ketika menghadapi masalah serius, melainkan menyerahkan segalanya kepada yang mengatur dan tetap berusaha sesuai kemampuannya.


4. Fungsi Pengendalian Diri

Seorang manusia diciptakan sebagai makhluk lemah dan banyak keterbatasan. Agama mengingatkan bahwa manusia harus sadar akan pernyataan tersebut agar tidak mudah terpengaruh oleh segala kesombongan dunia. Kesadaran tersebut mengenai kesetaraan seluruh manusia di mata Tuhan. Kendati jabatannya tinggi, hartanya melimpah, pintar, dan lain-lain, manusia tidak diperbolehkan menyombongkan diri karena pada dasarnya mereka sama-sama makhluk lemah

5. Fungsi Perlindungan 

Perlindungan di sini berarti manusia percaya bahwa adanya mereka di dunia masih dalam pantauan Tuhan. Dengan begitu, seseorang bisa merasakan bahwa dirinya akan aman selama mengikuti tuntunan ajaran agama. Melalui kata lain, agama punya peran memberikan kesadaran pada manusia bahwa rezeki, cita-cita, hingga maut, ada dalam kendali Tuhan. Rasa takut yang muncul dari rasa tidak aman tidak akan muncul ketika seorang mengetahui fungsi ini.


E. Agama sebagai sumber nilai kebudayaan

Relasi antara agama dan kebudayaan yaitu agama menyebarkan ajarannya melalui budaya dan budaya membutuhkan agama untuk melestarikannya. Agama tidak serta-merta menghapus budaya dalam masyarakat, yang beberapa memang tidak sesuai dan bertolak belakang dengan nilai-nilai agama. Akan tetapi, agama lebih menggunakan budaya untuk media dakwah sekaligus masuk dalam budaya dengan menyesuaikan apa yang boleh atau sesuai dengan ajarannya  Di sini agama berperan untuk memfiltrasi berbagai norma dan nilai dari kebudayaan, misalkan: budaya wayang, tumpengan, dan sebagainya


Adanya relasi antara agama dan kebudayaan diperkuat oleh salah satu argumen budayawan bangsa ini, Didik Nini Towok. Lemah gemulainya tubuh dengan siblakan sampur oleh jemari lentiknya saat pentas di Universitas Brawijaya Malang begitu memesona. Selepas menari, beliau mengatakan, “Kesenian terutama tarian di Nusantara dipengaruhi oleh agama. Seperti tarian Bali dipengaruhi oleh agama Hindu, tarian Jawa dipengaruhi oleh Kejawen, dan tarian Aceh dipengaruhi oleh agama Islam, sehingga para penari harus mengikuti tata cara dan adab menari” (Widianto, Eko. 2016. Seni Budaya Nusantara Dipengaruhi Agama. Terakota.id). Hal ini menegaskan bahwa agama mampu memengaruhi budaya yang ada  dan agama merupakan sumber nilai kebudayaan.


F. Islam sebagai sistem nilai

Mengapa islam dikatakan sebagai sistem nilai? Karena didalam islam sudah tersusun pranata yang dibuat sedemikian rupa dengan teratur agar dapat menjaga keselarasan dalam kehidupan manusia. Adapun salah satu bentuk dari sistem nilai tersebut adalah norma atau peraturan-peraturan atau disebut juga hukum dalam islam. Substansi norma adalah penjelasan mengenai perilaku yang patut dan tidak patut. Kemudian norma digunakan juga sebagai sistem nilai untuk mengatur  standar perilaku manusia dalam kehidupan bermasyarakat.


Pokok-pokok yang harus diperhatikan dalam ajaran Islam untuk mengetahui nilai-nilai agama Islam mencakup tiga aspek sebagai berikut:


a) Nilai Akidah

Nilai akidah memiliki peranan yang sangat penting dalam ajaran Islam, sehingga penempatanya berada di posisi yang utama. Akidah secara etimologis berarti yang terikat atau perjanjian yang teguh, dan kuat, tertanam dalam hati yang paling dalam. Secara etimologis berarti credo, creed yaitu sebuah keyakinan hidup dalam arti khas, yaitu pengingkaran yang bertolak dari hati. Dengan demikian, akidah adalah urusan yang wajib diyakini kebenaranya oleh hati, menentramkan jiwa, dan menjadi keyakinan yang tidak bercampur dengan keraguan.


Aspek nilai akidah tertanam sejak manusia dilahirkan, telaah tersebut tertuang dalam surat Al-A‟raf ayat 172:

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah aku ini Tuhanmu?" mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuban kami), Kami menjadi saksi". (kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya Kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)".


Akidah atau keimanan merupakan landasan bagi umat Islam, sebab dengan akidah yang kuat seseorang tidak akan goyah dalam hidupnya. Akidah dalam Islam mengandung arti adanya keyakinan dalam hati tentang Allah sebagai Tuhan yang wajib disembah, ucapan dalam lisan dan kalimat syahadat dan perbuatan dengan amal sholeh. Oleh karena itu, persyaratan bagi seseorang agar bisa disebut orang muslim dalam mengucapkan dua kalimah syahadat. Akan tetapi, pengakuan tersebut tidak sekedar pengucapan semata, tetapi juga harus disertai keyakinan yang kuat dalam hati dan dibuktikan dengan amal.


Akidah sebagai sebuah kayakinan akan membentuk tingkah laku, bahkan mempengaruhi kehidupan seorang muslim. Menurut Abu A‟la Al-Maududi, pengaruh akidah dalam kehidupan sebagai berikut:

1. Menjauhkan manusia dari pandangan yang sempit dan picik.

2. Menghilangkan sifat murung dan putus asa dalam menghadapi setiap persoalan dan situasi

3. Menanamkan kepercayaan terhadap diri sendiri dan tahu harga diri.

4. Menanamkan sifat kesatria, semangat dan berani, tidak gentar menghadapi resiko.

5. Membentuk manusia menjadi jujur dan adil.

6. Membentuk pendirian yang teguh, sabar, taat dan disiplin dalam menjalankan illahi.

7. Mencipatakan sikap hidup damai dan ridha.


Akidah atau keimanan yang dimiliki setiap orang selalu berbeda. Akidah mempunyai tingkatan-tingakatan yang berbeda pula. Tingkatan-tingkatan iman adalah:

1. Taqlid, tingakatan keyakinan berdasarkan pendapat orang lain tanpa dipikirkan. Dengan kata lain, keyakinan yang dimilikinya adalah meniru ada orang lain tanpa tahu dasarnya.

2. Yakin, tingkatan keyakinan yang didasarkan atas bukti dan dalil yang jelas, tetapi belum menemukan hubungan yang kuat antara obyek keyakinan dengan dalil yang diperolehnya.

3. Ainul yakin, tingkatan keyakinan berdasarkan dalil rasional, ilmiah dan mendalam sehingga mampu membuktikan obyek  keyakinan dengan dalil-dalil serta mampu memberikan argumentasi terhadap sanggahan-sanggahan yang datang.

4. Haquul yakin, tingkatan keyakinan yang disamping berdasarkan dalil-dalil rasional, ilmuah dan mendalam, juga mampu membuktikan hubungan antara objek keyakinan dengan dalil-dalil, serta mampu menemukan dan merasakan keyakinan tersebut melalui pengalaman agamanya.


b) Nilai Syari’ah

Syariah menurut bahasa berarti tempat jalannya air, atau secara maknawi syariah artinya sebuah jalan hidup yang ditentukan oleh Allah sebagai panduan dalam menjalankan kehidupan dunia dan Akhirat.

Syariah merupakan sebuah panduan yang diberikan oleh Allah SWT berdasarkan sumber utama yang berupa Al-Quran dan As-Sunnah serta sumber yang berasal dari akal manusia dalam ijtihad para ulama atau para sarjana Islam.


Kata syariah menurut pengertian hukum Islam adalah hukum-hukum atau aturan yang diciptakan Allah untuk semua hamba-hambaNya agar diamalkan demi mendapat kebahagiaan dunia dan akhirat. Syariah juga bisa diartikan sebagai satu sistem ilahi yang mengatur hubungan antara manusia dengan Tuhan, hubungan manusia dengan alam sekitarnya. Menurut Mamoud Syaltout dalam Muhammad Alim, syariah sebagai peraturan-peraturan atau pokok-pokoknya digariskan oleh Allah agar manusia berpegang kepadanya, dalam mengatur hubungan manusia dengan Tuhanya, sesama manusia, alam dan hubungan manusia dengan kehidupan.


Menurut Taufik Abdullah, syariah mengandung nilai-nilai baik dari aspek ibadah maupun mumallah. Nilai-nilai tersebut diantaranya:

1. Kedisiplinan, dalam beraktifitas untuk beribadah. Hal ini dapat dilihat dari perintah sholat dengan waktu-waktu yang telah ditentukan.

2. Sosial dan kemanusiaan.

3. Keadilan, Islam sangat menjujung tingggi nilai-nilai keadilan. Hal ini bisa dilihat dalam waris, jual, haad(hukuman), maupun pahala dan dosa.

4. Persatuan, hal ini terlibat pada sholat berjamaah, anjuran dalam pengambilan saat musyawarah.

5. Tanggung jawab, dengan adanya aturan-aturan kewajiban manusia sebagai hamba kepada TuhanNya adalah melatih manusia untuk bertanggung jawab atas segala hal yang dilakukan.

 Jika syariah dikaji secara mendetail bahwa di dalamnya terdapat nilai-nilai dan norma dalam ajaran agama Islam yang ditetapka oleh ajaran Islam yang ditetapkan oleh Tuhan bagi segenap manusia yang akan dapat mengantarkan pada makna hidup yang hakiki.


Hidup yang selalu berpegang teguh pada syariah akan membawa kehidupanya untuk selalu berperilaku yang sejalan dengan ketentuan Allah dan RasulNya. Sejalan dengan hal tersebut, kualitas iman seseorang dapat dibuktikan dengan pelaksanaan ibadah secara sempurna dan terealisasinya nilai-nilai yang terkandung di dalam syariah dalam menjalankan kehidupan sehari-hari.


c) Nilai Akhlak

Dalam agama Islam, akhlak atau perilaku seseorang muslim seseorang dapat memberikan suatu gambaran akan pemahamanya terhadap agama Islam. nilai-nilai akhlak sangatlah penting untuk diketahui dan diaktualisasikan oleh seseorang muslim atau seseorang ketika dalam proses pembinaan dan membentuk karakter yang tercermin sebagi muslim yang sejati. Secara etimologi, pengertian akhlak berasal dari bahasa arab yang berarti budi pekerti, tabi‟at, perangai, tingkah laku buatan, ciptaan.


Adapun akhlak secara terminologi yang mengutip pendapat dari ulama Ibn Maskawaih dalam bukunya Tahdzib al-ahlak yang mendifinisikan bahwa akhlak adalah keadaan jiwa seseorang yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan tanpa terlebih dahulu melalui pemikiran dan pertimbangan. Selanjutnya dari Imam Al-Ghazali kitabnya Ihya’ Ulum Al-Din menyatakan bahwa akhlak adalah gambaran tingkah laku dalam jiwa yang daripadanya lahir perbuatan-perbuatan dengan mudah tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan.


Dari pengertian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa ahklak adalah keadaan yang melekat pada jiwa manusia. Karena itu, suatu perbiatan tidak dapat disebut akhlak kecuali memenuhi beberapa syarat yaitu:

1. Perbuatan tersebut telah tertanam kuat dalam jiwa seseorang sehingga telah menjadi kepribadian

2. Perbuatan tersebut dilakukan dengan mudah tanpa pemikiran. Ini bukan berarti perbuatan itu di lakukan dalam keadaan tidak sadar, hilang ingatan, tidur, mabuk, atau gila.

3. Perbuatan tersebut timbul dari dalam dorongan seseorang yang mengerjakanya tanpa ada suatu paksaan atau tekanan dari luar.

4. Perbuatan tersebut dilakukan dengan sesungguhnya, bukan main-main, pura-pura atau sandiwara.


KESIMPULAN

Jadi kesimpulannya dari pembahasan kita kali ini terkait Agama Sebagai Sumber Nilai Kebudayaan yaitu Manusia sebagai makhluk allah swt yang di ciptakan paling sempurna. Oleh karenanya manusia selalu memerlukan panutan untuk menjalankan hidupnya masing-masing. Agama sebagai salah satunya panutan manusia yang juga sangat penting dibanding dengan keperluan primer yang lain. Dengan mempunyai Agama, manusia bisa mengontrol segala hal yang ditemui dalam hidupnya, manusia bisa mengontrol nafsu mereka dengan ketentuan kepercayaan mereka masing-masing.


selain itu agama juga akan berlaku sepanjang masa, dan tentunya tidak akan musnah, contohnya agama islam. Agama islam adalah agama sepanjang masa, mulai dari nabi adam / manusia pertama yang di ciptakan oleh allah swt, hinga akhir zaman pun agama islam akan tetap ada sepanjang zaman hingka hari kiamat. 


Selain itu agama juga merupakan sumber dari segala sumber. Maknanya dari agama ini jika kita gali maka kita akan mendapatkan berbagai sumber, mulai dari sumber pendidikan, sumber ketentraman, peraturan-peraturan dan lain sebagainya. Tidak hanya itu agama juga termasuk sumber nilai kebudayaan, karena dalam kebudayaan tertentu akan tertanam nilai-nilai keagaamaan. Sehingga untuk melestarikan kebudayaan itu sendiri harus di perkuat dengan agama.


Agama juga mengandung sistem nilai, contohnya agama islam. Karena di dalam agama islam didalamnya tersusun pranata yang di tentukan oleh allah swt dengan teratur dengan tujuan untuk menjaga keselarasan dalam kehidupan manusia. Ada banyak sistem nilai yang tertanam dalam agama islam ini. Contohnya nilai aqidah, nilai syariah dan nilai akhlak.


Nah itulah yang dapat kami sampaikan mengenai "Agama Sebagai Sumber Nilai Kebudayaan". Semoga bermanfaat dan menjadi referensi bagi kalian semua yaa. Sampai jumpa lagi di artikel berikutnya ya gaess. Jangan bosan untuk Tetap pantau terus situs Jabartrends.com untuk mendapatkan informasi terkini dan terupdate yaa. Selamat pagi dan selamat beraktifitas.



Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Makalah Masailul Fiqhiyah, Agama Sebagai Sumber Nilai Kebudayaan

Trending Now

Iklan